Menu Atas

Menu Utama

Program BIPA PDF Print E-mail
Written by imadesujana   
Saturday, 08 September 2012 04:43

PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR ASING (BIPA): PELUANG, TANTANGAN DAN SOLUSI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Oleh:

I Made Sujana

Pusat Bahasa Universitas Mataram

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

www.imadesujana.com

 

 

 

 

 

Makalah Disampaikan pada

Seminar Internasional “Menimang Bahasa, Membangun Bangsa

Hotel Grand Legi Mataram, 5-6 September 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LUSTRUM VI FKIP UNIVERSITAS MATARAM

DAN

ULANG TAHUN EMAS UNIVERSITAS MATARAM


 

PROGRAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA UNTUK PENUTUR

ASING (BIPA): PELUANG, TANTANGAN DAN SOLUSI[i]

 

 

Oleh:

I Made Sujana

Pusat Bahasa Universitas Mataram

This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

www.imadesujana.com

 

 

 

Abstrak. Program Pembelajaran Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) semakin marak dilaksanakan baik di sentra-sentra BIPA dalam negeri maupun sentra-sentra di luar negeri. Perkembangan ini memberi peluang bagi lembaga-lembaga pendidikan maupun perorangan untuk mengambil bagian sesuai dengan kapasitas masing-masing karena BIPA diibaratkan sebagai hutan belantara yang didalamnya terkandung potensi-potensi yang luar biasa untuk digali (Riasa, 2011). Program BIPA bisa digarap dari dimensi bisnis (berupa program kursus), dari dimensi bidang ilmu (kajian khusus tentang pembelajaran BIPA dan linguistic BIPA), dan dari dimensi profesi (BIPA bisa digeluti sebagai profesi). Bagi masyarakat NTB, garapan dimensi ini ditunjang oleh semakin maraknya NTB sebagai daerah tujuan wisata. Selain itu Program BIPA juga sebagai batu loncatan untuk menindaklanjuti kerjasama di luar hal-hal yang berkaitan dengan belajar bahasa, karena pebelajar asing belajar bahasa Indonesia bukan untuk menjadi ahli bahasa tetapi menggunakan kemampuan berbahasa sebagai tujuan antara. Dibalik potensi-potensi tersebut di atas, kita dihadapkan pada berbagai tantangan: Apakah kita sudah siap dengan program-program yang kita tawarkan?, Apakah sumberdaya manusia (instruktur) yang kita hasilkan sudah siap mengajar BIPA? Apakah dengan berbekal S1 Pendidikan Bahasa dan Seni sudah siap menjadi instruktur BIPA? Apakah lususan S1 Pendidikan Bahasa dan Seni telah dibekali dengan model-model/strategi/teknik belajar bahasa asing (BI sebagai Bahasa Asing)? Apakah kita sebagai penutur asli bahasa Indonesia cukup percaya diri untuk menjelaskan Tatabahasa Indonesia? Itulah diantara tantangan yang harus dijawab oleh kita semua yang ingin menjadi penggiat BIPA. Tulisan ini akan membahas potensi-potensi Program BIPA dan tantangan-tantangan yang mungkin dihadapi ketika ingin menyelenggarakan atau terlibat dalam program BIPA serta solusi-solusi dalam menghadi tantangan tersebut.

 

Kata-Kata Kunci: BIPA, potensi, tantangan

 

  1. A.PENDAHULUAN

Program BIPA (Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing) adalah program pembelajaran bahasa Indonesia untuk orang-orang yang bahasa ibunya bukan bahasa Indonesia dan yang berasal dari luar Indonesia. Program ini semakin berkembang baik di dalam maupun di luar negeri dan merupakan salah satu program Pemerintah Indonesia melalui Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (BPPB) Kemendiknas sebagaimana yang tertuang pada PP No. 24 tahun 2009. Sampai saat ini sudah tercatat paling tidak ada 179 sentra penyelenggara BIPA di 48 negara dan diprediksi akan terus berkembang (Maryani, 2011).

Beberapa faktor yang mendukung merebaknya program pengajaran BIPA baik di dalam maupun di luar negeri antara lain dari aspek geografis, perdagangan dan industri, pariwisata, dan pendidikan. Letak geografis Indonesia yang menjadi tetangga terdekat dengan Australia memungkinkan orang Australia menjadikan Indonesia sebagai pilihan utama untuk berlibur, melakukan bisnis dan kegiatan lain mengingat jarak. Kedekatan seperti ini akan mendorong orang Australia, baik perorangan maupun isntitusi, belajar bahasa Indonesia. Dari aspek perdagangan dan industri, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar memiliki potensi untuk memasarkan barang dan jasa dari luar negeri untuk dipasarkan di Indonesia apalagi dengan dibukanya pasar bebas (global market). Sejalan dengan mengalirnya barang dan jasa dari luar negeri, kedudukan bahasa Indoenesia akan semakin semakin penting karena keberhasilan sebuah transaksi akan ditentukan oleh kemampuan berbahasa Indonesia. Dengan demikian, Program BIPA akan semakin memegang peran penting. Terkait dengan aspek pariwisata, keindahan alam dan ragam budaya Indonesia menarik perhatian orang asing untuk datang apakah sebagai turis, sebagai pebisnis, maupun sebagai peneliti. Selain terkait dengan penelitian berbagai bidang, semaraknya program BIPA di luar negeri akan membuka peluang penyelenggarakan pendidikan ke-BIPA-an untuk guru-guru dari luar Indonesia, disamping terbukanya peluang bagi orang asing untuk mengikuti studi lebih lanjut S1, S2 dan S3 di universitas-unibersitas yang telah memiliki reputasi internasional. Untuk tujuan tersebut, diperlukan tingkat penguasaan bahasa Indonesia yang memadai.

Dengan demikian, Program BIPA akan memberikan peluang kita orang Indonesia sebagai business berupa penawaran program-program kursus/training, sebagai bidang ilmu terkait dengan penelitian dalam metodologi pembelajaran ke-BIPA-an dan linguistik BIPA, maupun sebagai sebuah profesi yang peluang kita terbuka untuk menjadi instrukur yang banyak dibutuhkan di dalam dan luar negeri.

Akan tetapi di balik peluang yang besar terdapat tantangan-tantangan yang cukup berat untuk mewujudkan peluang di atas. Berkaca dari Program BIPA Pusat Bahasa Universitas Mataram yang telah berjalan dari tahun 1996 dengan kerjasama Northern Territory University (NTU yang sekarang bernama Charles Darwin University (CDU)) dan selanjutnya berkembang menjadi kerjasama dengan 4 universitas di Australia yang tergabung dalam Konsorsium RUILI (Regional Universities’ Indonesian Language Initiatives), terekam berbagai kendala sebagai sebuah pengalaman atau pembelajaran yang menarik untuk dikaji dan dicarikan solusi oleh penggiat BIPA. Pembelajaran yang dapat dipetik antara lain: (a) Mengajar bahasa Indonesia untuk penutur asing berbeda dengan mengajar bahasa Inggris untuk penutur asing dalam banyak hal (b) Program BIPA memiliki kekhasan dalam hal metodologi pengajaran, bahan ajar, sistem penilaian, dukungan sistem administrasi, (c) Sebagai penutur asli bahasa Indonesia (dan/atau sarjana pendidikan yang telah memperoleh ilmu keguruan) belumlah cukup modal untuk menjadi intstruktur BIPA, (d) Mengingat target dan keinginan peserta satu dengan yang lainnya berbeda membuat penyusunan program BIPA dan pengembangan profesional instruktur tidak pernah berakhir, (e) Sering terjadi mispersepsi antara instruktur dengan pebelajar yang disebakan oleh perbedaan budaya.

Dari pemaparan di atas, Program BIPA memiliki peluang yang besar utuk dikembangkan karena akan memberikan keuntungan baik dari aspek bisnis, ilmu pengetahuan dan profesi dan sekaligus memberikan tantangan yang cukup besar dalam pengelolaannya. Paper ini selanjutnya akan memaparkan tentang peluang dan tantangan sekaligus mengusulkan solusi terhadap tantanganya.

 

 

  1. B.PEMBAHASAN

Program BIPA sebagaimana disebutkan di atas memberikan berbagai peluang untuk kita rebut sekaligus memunculkan tantangan dalam menyelenggarakannya. Dari segi peluang, Program BIPA akan membuka lapangan kerja baru baik berupa bisnis pengelolaan kursus maupun sebagai tenaga pengajar. Selain itu, BIPA juga berpotensi memunculkan bidang ilmu baru yang setara dengan pengajaran bahasa Inggris untuk orang asing (TEFL). Sebagai bidang baru akn memungkinkan tumbuhnya kajian-kajian baik penelitian maupun hasil pemikiran terkait dengan metode pengajaran BIPA, media pembelajaran BIPA, linguistic BIPA, kajian budaya BIPA, dll. Berikut ini disajikan berbagai peluang dan tantangan dalam Program BIPA.

 

  1. 1.PELUANG DAN TANTANGAN PROGRAM BIPA

Sebagaimana diungkapkan di atas bahwa merebaknya penyelenggaraan Program BIPA baik di dalam maupun di luar negeri memberikan peluang besar bagi intelektual Indonesia untuk mengembangkan sayapnya dalam kegiatan ke-BIPA-an dengan porsi masing-masing. Namun dibalik peluang-peluang tersebut, selalu ada tantangan yang harus dihadapi mengingat BIPA sebagai bidang yang relatif baru di Indonesia dan mengalami perkembangan yang sangat lambat. Ini tercermin dari keberadaan program, bahan ajar yang belum banyak dikembangkan, perkembangan metodologi pengajaran yang cendrung mengadopsi bahasa asing lain, dan berbagai tantangan lainnya. Berikut ini disajikan berbagai peluang dan tantangan pengembangan BIPA dari berbagai sudut pandang.

 

  1. a.Program BIPA sebagai Bisnis

Program BIPA akan memberikan peluang baru bagi lembaga bahasa, pusat-pusat bahasa, dan kursus untuk melebarkan sayapnya dengan menyediakan pelayanan kursus/kuliah Bahasa Indonesia sebagai bahasa asing. Hal ini dimungkinkan antara lain oleh perkembangan minat belajar bahasa Indonesia di luar negeri, semakin meningkatnya jumlah ekspatriat yang bekerja di Indonesia, semakin berpotensinya Indonesia sebagai pangsa pasar produk luar negeri karena jumlah penduduknya banyak dan semakin dipacunya kegiatan kepariwisataan di beberapa wilayah di Indonesia termasuk NTB, serta semakin menariknya Indonesia sebuah kajian dari berbagai aspek. Hal yang terakhir ini memunculkan kebutuhan orang asing belajar bahasa Indonesia untuk studi lanjut atau penelitian tentang Indonesia. Dengan demikian, sentra-sentra pelatihan/kursus bahasa perlu menambahkan lembaganya dengan program-program non-degree ke-BIPA-an seperti kursus BIPA, lokakarya dan program sertifikasi guru BIPA. Dengan peluang ini akan semakin banyak tenaga kerja yang bisa terserap. Bagi perguruan tinggi, perkembangan ini bisa memotivasi munculnya program studi baru, yairu Program Studi Bahasa dan Budaya Indonesia untuk Penutur Asing.

 

Keberlangsunga Program BIPA sebagai sebuah bisnis akan sangat ditentukan oleh profesionalisme program dan profesionalisme pengelolaan. Sebagai sebuah program pendidikan, Program BIPA harus memiliki kelengkapan sebuah lembaga pendidikan, baik berupa software berupa kurikulum maupun hardware berupa sarana prasarana. Program BIPA dituntut untuk memiliki perangkat pembelajaran yang didalamnya termasuk kurikulum, silabus, dan lesson plan dari program dan memiliki sistem penilaian yang valid dan realiable. Terkait dengan penyususnan perangkat pembelajaran, kendala yang mungkin dialami adalah penetapan tujuan/kompetensi yang akan menjadi titik sentral pengembangan komponen berikutnya. Kendala ini bersumber dari kebutuhan yang berbeda-beda antara program yang satu dengan program yang lainnya dan karakteristik pembelajar asing (terutama dari negara-negara Barat) dengan latar budayanya masing-masing. [berbeda dengan karakteristik pebelajar kita dalam belajar bahasa Inggris atau bahasa Indonesia yang menerima saja apa yang diberikan, jarang protes sehingga meninabobokan gurunya bahwa tidak ada masalah dalam pembelajarannya, demikian juga dalam sistem penilaian].

 

Setelah tersusun program yang telah dilengkapi dengan materi, maka masalah yang perlu diantisipasi dan merupakan masalah yang paling krusial adalah bagaimana menyampaikan materi tersebut supaya bisa membelajarkan pebelajar. Di sinilah kendala utama yang dihadapi oleh praktisi BIPA yaitu bagaimana membuat suasana kelas yang benar-benar aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan dengan tetap menekankan pada aspek efektivitas pembelajaran – yaitu pencapaian tujuan pembelajaran. Pebelajar asing adalah pebelajar kritis dan memiliki pola pebelajar. Setiap langkah yang kita lakukan sebagai guru dan mereka lakukan sebagai pebelajar harus jelas dan sistematis. Ini sering menjadi sumber masalah pengajar dengan pebelajar karena ketika pebelajar merasa tidak puas atau merasa tidak belajar apa-apa, maka mereka menunjukkan ketidakpuasannya secara langsung dengan reaksi yang bermacam-macam (menangis, keluar kelas, protes langsung, protes ke pengelola). Yang diperlukan dalam konteks seperti ini adalah kekuatan mental dan menerima kekurangan kita untuk diperbaiki (guru sebagai insane pebelajar). Tidak sedikit instruktur Pusat Bahasa UNRAM, misalnya, minta mengundurkan diri di tengan program karena tidak tahan terhadap perlakukan mahasiswa. Sebaliknya, sekali kita bisa memuaskan kebutuhan mereka, maka proses pembelajaran sangat mudah – guru bisa santai di kelas dan pebelajar merasa nyaman dan merasa memproleh yang ingin mereka pelajari. Kalau bisa terus bertahan seperti ini maka kita merasa nyaman dan satu keberhasilan akan cendrung berbuah keberhasilan lain karena kita merasa sudah bisa menguasai medan.

 

Selain kesiapan program, kendala lain yang sering ditemui dalam Program BIPA adalah siapa yang akan mengajar. Menurut Kurniawan (2007), salah kaprah yang terjadi selama ini terkait dengan program BIPA adalah siapa saja yang merasa diri penutur Indonesia atau orang asing yang telah belajar bahasa Indonesia sudah siap menjadi Instruktur BIPA. Seseorang yang memiliki hak dan kemampuan mengajarkan bahasa Indonesia adalah orang yang memiliki latar belakang ilmu pengetahuan dan keahlian berbahasa, sastra, dan budaya Indonesia dan memiliki kewenangan akte sebagai tenaga pengajar. Pertanyaan yang lebih mendalam perlu dikaji adalah apakah yang tertuang dalam kewenangan akta mengajar telah termasuk di antaranya kemampuan pedagogis untuk berhadapan dengan penutur asing seperti kemapuan menyusun program bahasa Indonesia sebagai bahasa asing, model-model pembelajaran, pengembangan media, pelaksanaan sistem evaluasi dan pemahaman lintas budaya. Kalau itu yang menjadi kriteria pengajar BIPA maka instruktur BIPA harus dibekali dengan kompetensi ke-BIPA-an. Caranya? Dengan menambahkan matakuliah yang menuntut Program Studi untuk melakukan rekonstruksi kurikulumnya, mengikuti loka karya berkesinambungan, atau program sertifikasi ke-BIPA-an [lebih rinci tentang SDM akan dibahas pada pembahasan BIPA sebagai profesi di bawah].

 

Kendala lain yang dihadapi ketika berhadapan dengan pebelajar asing adalah masalah penilaian. Perbedaan budaya melahirkan perbedaan dalam penilaian dan pebelajar asing selalu menuntut reasoning dalam setiap penilaian yang diberikan. Diperlukan latihan memberikan penilaian dengan menggunakan rubrik-rubrik yang telah disusun sebelumnya dan harus disosialisakan kepada pebelajar karena dipakai acuan dalam belajar. Pertanyaan yang sering muncul dalam penilaian esei atau berbicara adalah ketika kita memberikan nilai 75 yang berarti tingkat penguasaanya 75%, maka pertanyaan yang mungkin muncul adalah apa kira-kira yang 25% lagi yang belum saya kuasai (pertanyaan yang hampir tidak pernah keluar dari mahasiswa kita. Yang dituntut dalam penilaian adalah obyektivitas dan kejelasan. Mereka tidak senang diberikan nilai tanpa kriteria yang jelas

 

  1. b.Program BIPA sebagai Kajian (Sains)

Dengan perkembangan BIPA saat ini, tidak menutup kemungkinan BIPA akan menjadi suatu bidang ilmu tersendiri yang sejajar dengan TEFL/TESOL dalam pengajaran Bahasa Inggris. Para penggiat BIPA dari seluruh dunia minimal setahun sekali berkumpul dalam Forum Konferensi Internasional Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (KIPBIPA). Pada tahun 2012 ini juga kegiatan KIPBIPA VIII bekerjasama dengan Asosiasi Guru Bahasa Indonesia Australia yang tergabung dalam ASILE (Australian Society of Indonesian Language Educators) mengadakan seminar internasional di UKSW Salatiga. Dari kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh ASILE, tentu banyak sekali pemikiran-pemikiran tentang BIPA yang telah digulirkan dari berbagai dismensi. Akan tetapi ada temuan menarik yang disajikan oleh Alwasilah (dalam Riasa, 2007) terkait dengan penelitian tentang ke-BIPA-an. Dari kajian makalah selama lima tahun penyelenggaraan KIPBIPA, Alwasilah menemukan bahwa makalah yang disajikan dalam KIPBIPA didominasi oleh makalah hasil pemikiran. Ini artinya kajian-kajian BIPA melalui penelitian belum banyak dilakukan. Minimnya penelitian menurut beliau disebabkan antara lain oleh (a) kurangnya kerjasama antar lembaga; (b) kesinambungan kegiatan BIPA sering terhambat oleh berbagai faktor; dan (c) lembaga BIPA non-perguruan tinggi tidak berminat mengadakan penelitian karena menganggap bukan tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu, rendahnya kegiatan penelitian BIPA disebabkan oleh belum banyaknya peneliti yang serius menekuni BIPA karena BIPA masih belum menjanjikan sebagai sebuah profesi karena kegiatannya masih bersifat musiman.

 

Padahal kalau ditelusuri BIPA sebenarnya memiliki peluang penelitian yang sangat besar sejajar dengan pengajaran bahasa asing lainnya. Rekan-rekan dari Pendidikan Bahasa dan Sastra maupun Sastra murni (Indonesia mapun Inggris) harus mulai membuka mata untuk mengembangkan penelitiannya pada ke-BIPA-an. Penelian ke-BIPA-an dapat terkait dengan masalah-masalah kompetensi pedagogis, kompetensi profesional (akademis) maupun masalah-masalah yang terkait dengan pemahaman lintas budaya (CCU). Secara lebih rinci, kegiatan penelitian dapat berupa analisis kebutuhan pebelajar BIPA, rancangan kurikulum/silabus dengan berbagai pendekatan pengembangan bahasa asing/bahasa kedua (seperti theme-based, skill-based, function and notion, structural-based approaches, dll), penelitian tindakan kelas atau penelitian eksperimen terkait dengan penggunaan berbagai model pembelajaran bahasa asing untuk meningkatkan berbagai ketrampilan dan aspek kebahasaan, penelitian tentang analisis kesalahan berbahasa (lisan maupun tulis), penelitian tentang Tatabahasa untuk BIPA (teknik pengajarannya dan aspek-aspek yang sulit dipelajari oleh penutur asing), penelitian tentang pemahaman lintas budaya yang melatarbelakangi penggunaan bahasa dan kendala-kendala yang dihadapi oleh penutur asing dari negara berbeda, dan masih banyak lagi yang bisa digali dari penelitian BIPA.

 

Dari pemaparan di atas, kegiatan penelitian BIPA dapat dilakukan oleh semua orang yang terlibat dalam pembelajaran BIPA. Pihak manajemen bisa mengadakan penelitian terkait dengan analisis kebutuhan dan hal-hal yang berkaitan dengan program-program pengajaran BIPA dan para instruktur dapat meneliti kelasnya sendiri dengan melakukan eksperimen dan/atau penelitian tendikan kelas tentang model-model pembelajaran, media atau permainan-permainan dalam pengajaran skill dan aspek kebahasaan. Manajemn dan instruktur dapat melakukan kolaborasi untuk mengadakan penelitian sesuai dengan permasalahan yang berkembang.

 

Salah satu kegiatan penelitian yang didanai dalam Skim Strategis Nasional DIKTI Kemendikbud Jakarta adalah penelitian tentang rancangan perangkat pembelajaran BIPA dengan menerapkan pendekatan berbasis tema oleh Tim Pusat Bahasa UNRAM (Sujana, Sudika, Fitrina, dan Syahrial, 2012) yang diharapkan akan menghasilkan Kurikulum, 8 jenjang silabus dan RPP dan tahun kedua menghasilkan 8 buku ajar dan instrument penilaian (jika didanai). Penelitian lain yang telah dilakukan berupa penelitian tindakan kelas, misalnya, Nastiti dan Sinaga (2010) tentang peningkatan kemampuan berbicara melalui film dokumenter di Universitas Trisakti. Penelitian-penelitian seperti ini perlu dikelompokkan dan selanjutnya dipublikasikan untuk bisa dijadikan bahan untuk ‘sharing’ pengetahuan dan ketrampilan sesama penggiat BIPA.

 

  1. c.Program BIPA sebagai Profesi

Dengan semakin maraknya sentra BIPA baik di dalam maupun di luar negeri, akan semakin berpeluang untuk menjadikan mengajar Program BIPA sebagai sebuah profesi baru. Ketika Program BIPA hanya diminati oleh beberapa orang asing maka peluang mengajar biasanya diaraih oleh orang-rang dari jurusan bahasa Inggris karena memiliki tingkat rasa percaya diri yang lebih dalam berkomunikasi, sehingga ketika program mulai banyak diminati pun masih didominasi oleh orang-orang dari program studi bahasa Inggris. Situasi ini memunculkan pertanyaan “Mengapa ada kecendrungan bahwa Program BIPA di Indonesia kebanyakan didominasi oleh orang-orang dari PS Bahasa Ingris?”

 

Sementara pada Kongres Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (KIPBIPA) VI di Pusat Bahasa DEPDIKNAS Jakarta tahun 2007 dan KIPBIPA VII di Universitas Indonesia Jakarta tahun 2010 selalu muncul wacana tetntang “siapa yang berhak dan memiliki kemampuan mengajarkan BIPA”. Program BIPA UI misalnya dikelola oleh mereka yang memiliki latar belakang Pendidikan dan Sastra Indonesia (komunikasi personal dengan mitra kerja LBI FIB UI). Kalau kita mencermati apa yang disampaiakan oleh Kurniawan (2007) di atas, yang berhak dan memiliki kemampuan untuk menjadi guru BIPA adalah lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia sementara yang berasal dari Fakultas Sastra belum memenuhi syarat karena kewenangan akta mengajar. Akan tetapi,untuk menjawab wacana ini ada beberapa hal yang perlu diperhatikan: (1) apa kriteria “instruktur BIPA yang berterima” bagi pebelajar asing; (2) apa tujuan orang asing belajar bahasa Indonesia – sebagai linguist atau sebagai pengguna bahasa; (3) apakah yang bersangkutan telah memilki bekal tentang metodologi pengajaran bahasa sebagai bahasa asing; dan sebagai tambahan (4) apakah yang bersangkutan memiliki kemampuan berbahasa asing sebagai alat komunikasi. Ada wacana yang menarik dilontarkan terkait dengan instruktur BIPA khususnya di Pusat Bahasa UNRAM oleh salah seorang dosen senior bahasa Indonesia dari University of Sunshine Coast Autralia, yang secara periodik menjadi Resident Director Program BIPA Pusat Bahasa UNRAM kerjasama dengan Konsorsium RUILI Australia. Mencermati pasang surut dan keberagaman penampilan instruktur BIPA Pusat Bahasa UNRAM, Dr. Philip Mahnken berkomentar pada suatu rapat mingguan: … we don’t care what qualifications they have, but what we need is teachers who are capable of making our students learn, who want to learn from their failure in class, who are willing to prepare themshelves. We don’t need unprepared teachers,… We don’t need teachers with fossilized ways of teaching …

 

Pernyataan Dr. Mahnken di atas merubah kriteria instruktur BIPA Pusat Bahasa UNRAM tahun-tahun mendatang. Muncullah instruktur muda dan instruktur senior yang tanggap terhadap perubahan-perubahan paradigma pengajaran dan terbuka untuk menerima kritikan dari peserta, Resident Director, dan management Pusat Bahasa yang dilontarkan secara terbuka dalam rapat mingguan program, dimana semua pihak melaporkan best practices dan bad practices yang dirasakan oleh instruktur dan dari hasil pengamatan oleh RD dan manajemen. Hal ini dimungkinkan mahasiwa belajar BIPA adalah untuk bisa berkomunikasi sehingga bagaimana menciptakan berbagai kegiatan kelas untuk mampu berkomunikasilah yang dipentingkan, bukan untuk menjadi ahli bahasa. Terkait dengan penjelasan gramatika, misalnya, yang diperlukan mahasiswa adalah penjelasan yang sederhana dan tepat guna untuk berkomunikasi. Dari 21 instruktur yang dimiliki oleh Pusat Bahasa UNRAM saat ini 20 diantaranya berasal dari PS Pendidikan Bahasa Inggris.

 

Idealnya, seseorang yang ingin terlibat dalam kegiatan BIPA harus memenuhi kriteria antara lain: (a) menguasai bidang ilmunya (dalam hal ini tidak hanya memiliki kemampuan menggunakan bahasa dengan baik terkait 4 ketrampilan berbahasa tetapi juga harus memiliki pengetahuan tentang aspek-aspek kebahasaaan), (b) memiliki kompetensi pedagogis, terutama terkait dengan pengajaran bahasa sebagai bahasa asing (dalam hal ini kemampuan yang dituntut adalah kemampuan merencanakan, mengimplementasikan dan mengevaluasi program. Dalam implementasi, diperlukan kemampuan menerapkan model, media yang tepat sesuai dengan karakteristik pebelajar. Memahami karakteristik pebelajar asing menjadi catatan khusus dalam BIPA yang berbeda dengan karakteristik pebelajar Inggris), (c) memiliki pengetahuan yang luas, (d) responsive terhadap terhadap perkembangan ilmu (sebagai insan pebelajar), (e) memiliki tanggung jawab dan lapang terhadap kritikan, (f) memiliki kode etik sebagai pengajar BIPA, (g) memiliki pengetahuan lintas budaya (cross-cultural understanding).

 

Dari wacana-wacana di atas, persoalan harus dikembalikan kepada calon instruktur: apakah dia memiliki kriteria menjadi instruktur yang berterima?, apakah dalam perkuliahan dibekali dengan kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang instruktur BIPA? apakah paradigma pembelajaran telah berubah dari teachers’ centered ke learners’ centered dengan segala kebutuhannya? Kalau semua kriteria-kriteria tersebut terpenuhi maka yang menjadi ujiboba terakhir adalah lapangan, yaitu kelas sebenarnya. Dari segi pengakuan, kebanyakan sarjana Pendidikan dan Sastra Indonesia merasa siap mengajar Program BIPA karena selain sebagai penutur asli mereka sudah mendapat pendidikan formal kurang lebih 4 tahun [Ini sering menjadi dilemma bagi pengelola BIPA]. Dengan berbekal keduanya, sebenarnya telah menjadi modal yang sangat kuat, tetapi harus dilengkapi dengan kriteria pengajar BIPA lainnya. Kalau kita bandingkan dengan instruktur pengajaran Bahasa Inggris sebagai Bahasa asing, maka akan ditemukan fakta yang berbeda – seorang penutur asli bahasa Inggris tidak harus kuliah S1 Pendidikan Bahasa Inggris selama 4 tahun untuk menjadi guru bahasa Inggris tetapi cukup mengambil sertikat TEFL atau TESOL selama setahun.

 

Makna dari statemen di atas adalah kita sebagai penutur asli bahasa Indonesia dalam bidang apa ilmu apa saja sebenarnya bisa saja menjadi pengajar Program BIPA tetapi yang perlu membekali diri dengan kemampuan menyusun program BIPA, metodologi pembelajaran BIPA, karakteristik pebelajar BIPA, kepekaan terhadap kebutuhan pebelajar, memiliki etos kerja kuat. Intinya adalah keunggulan kita sebagai penutur asli harus diimbangi dengan keinginan belajar yang kuat baik secara mandiri maupun melalui kegiatan lokakarya, termasuk kemauan belajar berbahasa asing (Inggris).

 

  1. d.Program BIPA sebagai Sentra Pendidikan

Peluang lain yang bisa diciptakan oleh Program BIPA adalah sentra pendidikan. Dengan banyaknya orang asing dan orang Indonesia yang terlibat sebagai instruktur BIPA, maka banyak orang yang tertarik untuk membekali kemampuan yang disyaratkan di atas. Program pendidikan yang terkecil adalah diadakannya program non-degree Program Lokakarya Pengajaran BIPA seperti yang sudah dilakukan oleh IALF Bali, atau program sertifikasi Pengajar BIPA yang telah diusahakan oleh APBIPA Bali di bawah pimpinan Nyoman Riasa, atau pada skala degree yaitu pembukaan Program Studi Indonesia untuk Penutur Asing yang bisa dikelola oleh Jurusan Bahasa dan Seni. Hal ini potensial untuk membuka program studi baru. Program-program non-degree maupun degree bisa dipadukan dengan program budaya yang banyak diminati oleh orang asing.

 

Yang menjadi tantangan adalah kembali kepada kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam melakukan analisis kebutuhan program, merencakan dan mengimplementasikan program-program yang telah disusun.

 

  1. e.Program BIPA dan Pariwisata

Program BIPA dan pariwisata merupakan dua hal yang berbeda tetapi bisa menjadi suatu kekuatan (magnet) jika kita mampu menggabungkan dan mengemas menjadi program yang saling mendukung. Salah satu keuatan orang asing belajar bahasa di Lombok, misalnya, adalah daerah ini menjadi destinasi wisata baru setelah Bali dianggap bagi kebanyakan orang asing sudah mulai jenuh. Apabila kita bisa menggabungkan pariwisata Lombok sebagai primadona baru dengan Program BIPA yang profesional, maka orang asing tidak ragu-ragu untuk memilih berlibur dan belajar bahasa Indonesia sekaligus di Lombok. Dengan lain kata, keberadaan Lombok (NTB) sebagai daya tarik baru bagi pariwisata dunia harus bisa dimanfaatkan oleh sentra-sentra BIPA untuk memberikan pelayanan yang profesional.

 

Dalam komunikasi penulis dengan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan NTB, Bapak Drs. Lalu Gita Aryadi, M.Si. ketika menemani Tim Lombok Reseach Initiative (LoRI) University of Sunshine Coast melakukan audiensi bulan Januari 2011 beliau berharap bahwa suatu saat Lombok (NTB) diharapkan bisa berkembang menjadi salah satu daerah tujuan “pariwisata pendidikan” bagi orang asing. Hal ini sudah dirintis oleh rekan-rekan di Universitas Mataram dengan setiap tahun mendatangkan mahasiswa Australia di bawah konsorsium RUILI (Regional University Indonesian Language Initiatives) yang merupakan gabungan 4 universitas di Australia yang menawarkan program bahasa Indonesia. Beliau mengharapkan program pendidikan serupa bisa dikembangkan baik oleh Universitas Mataram maupun lembaga pendidikan lainnya untuk menarik perhatian orang asing datang ke Lombok. Gabungan antara pesona alam, keanekaragaman budaya, dan pelayanan pendidikan profesional akan mengundang minat turis manca negara untuk datang dan tinggal lebih lama di Lombok.

 

Tantangan dari pelaksanaan program di atas antara lain bagaimana menyediakan layanan pendidikan yang profesional, dukungan masyarakat, dan bagaimana menciptakan keamanan. Keamanan merupakan isu yang paling sentral ketika kita berhadapan dengan lembaga asing karena travel warning sangat diperhatikan oleh negara mereka terkait dengan asuransi dan keamanan warganegaranya. Impian untuk menjadikan Lombok sebagai salah satu destinasi pendidikan akan sirna apabila masalah security masih menjadi pembicaraan para wisatawan. Dengan perkembangan teknologi komunikasi apa pun yang terjadi di suatu daerah (Lombok misalnya) akan dengan cepat menyebar dan mempengaruhi keinginan mereka untuk datang dan akan berdampak pada kebijakan pemerintah mereka dengan mengeluarkan ‘travel warning’.

 

  1. f.Program BIPA dan Kerjasama Luar Negeri

Orang asing belajar bahasa Indonesia tidak untuk menjadi linguist bahasa Indonesia tetapi untuk bisa berkomunikasi untuk mencapai tujuan lain. Belajar bahasa Indonesia hanyalah sebagai tujuan antara atau sebagai batu loncatan untuk mempermudah pencapaian tujuan lain. Kegiatan BIPA yang diselenggarakan baik di dalam maupun luar negeri hanyalah sebagai batu loncatan untuk mencapai tujuan lain seperti melakukan penelitian di Indonesia, mengembangkan usaha di Indonesia, membantu pendidikan di Indonesia. Dengan demikian program BIPA ini sangat potensial untuk berlanjut menjadi kerjasama luar negeri baik untuk pemerintah, swasta, maupun perguruan tinggi. Permasalahan yang sering menghambat adalah kecendrungan kita adalah sebagai penunggu bola lewat daripada sebagai inisiator yang menjemput bola.

 

Di Universitas Mataram dan universitas lainnya di Indonesia, terbentuknya Overseas Student Office (OSO, Office of International Affairs dan sejenisnya di bawah Pembantu Rektor urusan Kerjasama harus bisa menangkap ini sebagai peluang yang harus dijemput dengan lebih pro-aktif.

 

  1. 2.SOLUSI ALTERNATIF DALAM MENGATASI TANTANGAN

Peningkatan mutu pelayanan BIPA terus harus diupayakan melalu berbagai cara dan berbagai sektor dari penyiapan program perangkat pembelajaran, pengembangan SDM, pengembangan bahan ajar, pembenahan sistem pelayanan dan administrasi BIPA.

 

  1. a.Penyediaan Perangkat Pembelajaran

Komponen pertama yang perlu disiapkan dalam menjalankan Program BIPA adalah kesiapan kurikulum sebagai penentu destinasi dari sebuah program. Semua program harus dijabarkan secara eksplisit dan jelas. Yang perlu ditentukan dalam penyusunan silabus yang dilanjutkan dengan pengembangan silabus adalah SKL yang ingin dicapai dalam 1 program. Untuk mencapai SKL tersebut, berapa jenjang kursus diperlukan dan masing-masing jenjang dikemas dalam berapa jam? Pendekatan apa yang akan digunakan dalama menyusun silabus? Apakah ada pendekatan khusus dalam penyusunan silabus BIPA? Kalau tidak maka kita bisa meminjam dari pendekatan penyusunan silabus bahasa asing lainnya seperti theme-based, skill-based, functional-notional, structural-based, content-based, dll. Materi apa yang akan digunakan untuk mencapai tujuan tersebut? Metode/teknik/strategi apa yang akan digunakan untuk menyampaikan materi untuk mencapai komptensi yang ditargetkan? Bagaimana cara mengetahui tujuan/kompetensi yang ditetapkan telah tercapai? Secara singkat dapat dikatakan bahwa sebuah program pada intinya terdiri dari 3 komponen besar yaitu (1) mau dibawa kemana pebelajar ini (tujuan/kompetensi/destinasi)?; (2) bagaimana cara mencapai tukuan tersebut (materi, metodologi, media)? dan (3) bagaimana caranya kita tahu bahwa tujuan yang dicanangkan telah tercapai (asesmen)?

 

Penyediaan program yang baik merupakan langkah awal yang bagus. Keberhasilan sebuah program pembelajaran sangat tergantung pada perencanaan. Kalau kita gagal merencanakan maka kita berencana untuk gagal (If you fail to plan, you plan to fail) (anonym).

 

  1. b.Penyediaan Program Pengembangan SDM BIPA

Kalau dicermati kriteria pengajar BIPA di atas, maka sampai saat ini belum ada sarjana yang benar-benar siap untuk mengajarkan Program BIPA. Untuk itu, diperlukan perekrutan instruktur-instruktur dari penutur asli atau orang asing yang memiliki kemampuan berbahasa Indonesia yang mahir dan kemudia perlu dilakukan sentuhan-sentuhan berupa lokakarya, profesional development, program sertifikasi BIPA. Untuk persiapan guru BIPA jangka penjang, diperlukan inovasi dari lembaga pendidikan dan perguruan tinggi untuk membekali mahasiswa dengan kemampuan yang diperlukan melalui penyisipan mata kuliah ke-BIPA-an pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Seni (PS Bahasa Inggris maupun PS Bahasa Indonesia) atau yang lebih luas lagi adalah pembukaan program studi baru (PS BIPA).

 

  1. i.Program Lokakarya dan Sertifikasi Pengajar BIPA

Alternatif perrama dalam pengembangan SDM BIPA adalah dengan lebih banyak memberikan lokakarya pengembangan kompetensi instruktur dengan melakukan profesional development sesuai dengan kebutuhan instruktur. Lembaga-lembaga kursus besar saat ini telah mengembangkan kegiatan layanannya dengan memberikan Training of Trainers (ToT) untuk calon instruktur BIPA. IALF Bali misalnya menawarkan program Workshop BIPA sehari dengan topik-topik yang mengarah pada mempersipakan guru BIPA. APBIBA Bali juga menyediakan program pengembangan dan sertifikasi guru BIPA untuk mempersiapkan guru BIPA. Di Pusat Pahasa UNRAM sendiri, kegiatan professional development berupa workshop minimal setahun dua kali yang melibatkan para pakar BIPA dari Australia dan pengajar senior di Pusat Bahasa UNRAM sebagai tradisi sebelum program kursus Januari-Februari mulai. Tahun 2012 ini kegiatan Profesional Development akan dilaksanakan dengan bantuan Charles Darwin University mendatangkan pakar kurikulum dan manajemen selama 5 hari bulan Oktober dan mengundang narasumber dari IALF Bali bulan November. Ini merupakan usaha dalam pembinaan dan pengembangan profesionalisme instruktur BIPA Pusat Bahasa UNRAM.

 

  1. ii.Program BIPA sebagai Mata Kuliah dalam Prodi Bahasa Indonesia

Pada persiapan jangka panjang, pembekalan kemampuan ke-BIPA-an bisa dibekali melalui pencangan mata kuliah BIPA yang terintegrasi dalam Program Studi Bahasa dan Satra Indonesia. Hal ini menuntut keberanian Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra dan Budaya untuk mengalokasi mata kuliah ke-BIPA-an dan merekonstruksi kurikulum. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, misalnya, telah mengalokasikan 16 sks mata kuliah perluasan dan pendalaman BIPA dalam kurikulum Jurusan DIKSASTRASIA. Mata kuliah yang ditawarkan antara lain Bahan Ajar BIPA, Strategi Belajar Mengajar BIPA, Media BIPA, Evaluasi BIPA dan Seminar Pengajaran BIPA (Kurniawan, 2007). Beberapa Jurusan DIKSASTRASIA di Indonesia juga telah melaksanakan rekonstruksi kurikulum dengan bobot sks yang berbeda. Bagaimana dengan Program Studi DIKSASTRASIA FKIP UNRAM? Sudah saatnya dipikirkan pengembangan-pengembangan program ke arah itu. Paling tidak bisa mulai dengan 6 sks dengan kompetensi yang tercakup bahgaimana merencanakan pembelajaran BIPA, bagaimana mengajarkan BIPA dan bagaimana menilai keberhasilan belajar BIPA.

 

  1. iii.Program Studi BIPA

Solusi lain dalam penyediaan guru BIPA adalah dengan membuka Program Studi BIPA yang bisa diperuntukan bagi penutur asli dan penutur asing. Tentu pembukaan ini memerlukan analisis kebutuhan dan analisis kelayakan penyelenggaraan secara matang dengan mempertimbangkan calon mahasiswa, pangsa pasar lulusan, kesiapan SDM penyelenggara, dll. Kalau Program Studi BIPA bisa dibuka maka akan semakin membuka peluang menkadikan Pendidikan BIPA sebagai salah satu cabang ilmu yang sejajar dengan pengajaran bahasa asing lainnya.

 

  1. c.Penyediaan Bahan Ajar

Profesionalsime penyediaan layanan BIPA akan tercermin juga pada kesiapan bahan ajar. Bahan ajar merupakan salah satu komponen penting dalam trilogi pembelajaran – pembelajaran bisa terjadi apabila minimal ada pebelajar (siswa), materi, dan guru (Tomlinson & Masuhara, 2004). Bahkan dalam konteks belajar jarak jauh trilogi tersebut sudah berubah menjadi dwilogi – pembelajaran terjadi minimal ada pebelajar dan materi.

 

Pernyataan di atas mengingatkan kita pentingnya peran bahan ajar (materi) dalam sebuah pembelajaran. Oleh sebab itu, materi/bahan ajar harus dirancang dengan baik. Materi yang baik adalah (a) materi yang tersusun dengan baik karena materi akan membantu pengajar dan pebelajar dalam mengorganisir PBM; (b) materi yang mampu memberikan stimulus untuk pembelajaran; (c) materi yang mampu memberikan model penggunaan bahasa yang baik.

 

  1. d.Pembenahan Sistem Pelayanan dan Administrasi

Program BIPA melibatkan pebelajar dari berbagai negara. Ketika kita memutuskan untuk membuka Program BIPA, maka harus siap dengan sistem layanan dan adminsitrasi yang profesional. Lembaga dituntut untuk memiliki panduan informasi yang sekiranya diperlukan oleh orang asing tidak hanya terkait dengan kegiatan akademis, termasuk juga di dalamnya non-akademis seperti sistem transportasi di daerah dimana kegiatan dilaksanakan, security system dalam emergency, pilihan-pilihan akomodasi, contact person, kebudayaan secara singkat, dan lain-lain. Demikian juga dengan keramahan para tim administrasi dan pengajar serta manajemen. Semua ini dilakukan adalah untuk kenyamanan dalam belajar.

 

  1. C.PENUTUP

Dari pemaparan di atas tergambar bahwa Program BIPA memberikan peluang yang sangat besar bagi orang-orang yang mau terlibat serius dalam program ini. Peluang-peluang tersebut dapat berupa kegiatan belajar mengajar (kursus/bisnis), dalam bidang penelitian ke-BIPA-an, dan dari profesi. BIPA juga dapat meningkatkan pariwisata setempat dan sebagai batu loncatan untuk menjajagi kerja sama lebih lanjut.

 

Di balik peluang yang ada, BIPA juga memunculkan berbagai tantangan unttuk dapat berjalan secara profesional. Penggiat BIPA dituntut untuk menyediakan program yang profesional, menyiapkan instruktur yang profesional, dan menyediakan bahan ajar yang mampu membelajarkan pebelajar secara maksimal dalam waktu yang relative singkat.

 

Solusi-solusi yang dapat ditawarkan untuk meningkatkan program BIPA ke arah profesional antara lain penyediaan perangkat pembelajaran berupa kurikulum dan silabus yang jelas, penyediaan bahan ajar yang lengkap dan sistematis, penyediaan SDM (instruktur) melalui pembekalan tentang ke-BIPA-an secara berjenjang mulai dari loka-karya, program sertifikasi, sampai pada penyisipan mata kuliah BIPA pada program studi dan pembukaan program studi BIPA, serta peningkatan sistem pelayanan dan administrasi program. Kalau semua ini bisa terpenuhi secara sinergis maka penyelenggaraan program BIPA dapat berjalan dengan baik dan profesional.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bailey, K. 2007. Pengajaran BIPA Membuka Jendela Informasi tentang Indonesia Makalah Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Internasional Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa DEPDIKNAS, Jakarta, 18 – 20 Juli 2007.

Fanany, I., 2007. Engaging Students in Language Study. Makalah Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Internasional Pengajaran BIPA,. Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa DEPDIKNAS, Jakarta, 18 – 20 Juli 2007.

Kurniawan, K. 2007. Peningkatan Mutu Penyelenggaraan BIPA yang Profesional, Makalah Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Internasional Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa DEPDIKNAS, Jakarta, 18 – 20 Juli 2007.

Maryani, Y., 2011. Lokakarya Program Prasertifikasi Guru BIPA: Metodologi Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Prov. NTB bekerjasama dengan APBIPA Bali, Senggigi Beach Hotel, 13 – 15 April 2011.

Nastiti, D. L. dan O. T. Sinaga. 2010. Peneningkatan Keterampilan Berbicara BI melalui Penggunaan Media Film Dokumenter pada Siswa BIPA Tingkat Madya di Universitas Trisakti. Makalah Disampaikan pada KIPBIBA VII di Fakutas Ilmu Budaya FIB UI Jakarta tanggal 29 – 31 Juli 2010.

Riasa, N., 2007. Penyelenggaraan BIPA di Tengah Kegalauan Hati. Makalah Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Internasional Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa DEPDIKNAS, Jakarta, 18 – 20 Juli 2007.

Riasa, N., 2011. Lokakarya Program Prasertifikasi Guru BIPA: Metodologi Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Prov. NTB bekerjasama dengan APBIPA Bali, Senggigi Beach Hotel, 13 – 15 April 2011.

Sujana, I M., 2011. “Program BIPA sebagai Batu Loncatan Menuju Internasionalissasi Universitas Mataram”, diunggah dari www.imadesujana.com tanggal 28 Agustus 2012

Sujana, I M., I N. Sudika, E. Fitriana, E. Syahrial (2012). Rancangan Pembelajaran BIPA dengan Pendekatan Berbasis Tema di Pusat Bahasa Universitas Mataram, Laporan Penelitian Hibah Strategis Nasional, didanai oleh DIKTI Kemendikbud Jakarta (in progress).

Tomlinson B. and Masuhara. 2004. Theory of Teaching and Learning. Cambrige: CUP

Utorodewo, F.N., 2007. Intensitas Kerjasama Antarlembaga dalam Pengembangan BIPA. Makalah Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Internasional Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Pusat Bahasa DEPDIKNAS, Jakarta, 18 – 20 Juli 2007.

Widodo Hs., 2011. Lokakarya Program Prasertifikasi Guru BIPA: Metodologi Pengajaran BIPA. Diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Prov. NTB bekerjasama dengan APBIPA Bali, Senggigi Beach Hotel, 13 – 15 April 2011.

 

=====================================================================

Please quote as:

 

Sujana, I Made. 2012. Program Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA): Peluang, Tantangan dan Solusi. Makalah disampaikan pada “Seminar Internasional “Menimang Bahasa Membangun Bangsa” Diselenggarakan oleh FKIP Universitas Mataram di Hotel Grand Legi Mataram, Lombok, NTB, 5-6 September 2012.

=====================================================================



 

Last Updated on Friday, 15 February 2013 13:39